Bojonegoro – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat budaya riset dan inovasi melalui penyelenggaraan Workshop Penulisan Paten Sesi 2 pada Sabtu, 2 Februari 2026. Bertempat di Ruang SmartClass Kampus UNUGIRI, kegiatan ini menghadirkan suasana antusias dari para peserta yang datang membawa berbagai gagasan inovatif. Mulai dari dosen, mahasiswa, peneliti, hingga praktisi industri, semuanya berkumpul dengan tujuan yang sama: memahami bagaimana sebuah ide dapat diubah menjadi draft paten yang sistematis dan siap diajukan secara resmi.
Kegiatan ini menghadirkan Felix Pasila, PhD, seorang akademisi dan inventor berpengalaman yang telah mengajukan lebih dari 50 aplikasi paten nasional, memperoleh 25 paten granted, serta dua paten internasional melalui skema PCT. Reputasinya dalam dunia kekayaan intelektual menjadikannya figur yang sangat relevan untuk membimbing para peserta. Sejak sesi awal, Felix memberikan pemahaman bahwa kekuatan sebuah paten tidak hanya terletak pada idenya, melainkan bagaimana ide tersebut dituangkan ke dalam dokumen yang memenuhi kriteria hukum dan teknis yang ketat. Ia menjelaskan dengan lugas mengenai unsur-unsur penting dalam penyusunan uraian paten, perumusan klaim, hingga penyusunan latar belakang masalah secara tepat.

Selama delapan jam pelaksanaan workshop, peserta dibimbing secara bertahap mulai dari cara memetakan ide, menyusun elemen-elemen teknis, hingga membentuk klaim utama dan klaim turunan. Banyak peserta yang awalnya mengaku kesulitan, akhirnya memahami bahwa proses penyusunan paten pada dasarnya dapat diuraikan dengan pendekatan yang runtut dan metodis. Diskusi demi diskusi berlangsung intensif, baik antar-peserta maupun antara peserta dengan instruktur. Setiap kelompok mendapat kesempatan untuk berkonsultasi langsung mengenai ide yang mereka bawa, sehingga draft paten yang mereka susun berkembang secara signifikan.
Yang membuat workshop ini semakin menarik adalah pemanfaatan teknologi sebagai dukungan proses drafting, khususnya melalui tools Paten.ai dan ChatGPT. Dalam sesi praktik, Felix menunjukkan bagaimana kedua tools dapat digunakan untuk menyusun struktur paten, melakukan pengecekan similarity, hingga membantu merumuskan deskripsi teknis secara cepat. Banyak peserta yang terkejut ketika hasil pengecekan similarity menunjukkan adanya teknologi serupa, namun momen itu justru dimanfaatkan untuk memperbaiki fokus inovasi agar tetap memenuhi aspek kebaruan. Pemanfaatan teknologi ini memberikan pengalaman baru bagi peserta, terutama bagi mereka yang belum pernah menggunakan platform berbasis kecerdasan buatan dalam penyusunan dokumen hukum.
Di luar aspek teknis, workshop ini juga membuka ruang interaksi dan kolaborasi antar-inovator. Suasana diskusi yang hangat membuat peserta saling bertukar perspektif mengenai tantangan dan peluang dalam mengembangkan ide. Beberapa peserta bahkan menemukan potensi kolaborasi lanjutan setelah melihat kedekatan bidang atau kesamaan minat. Selama kegiatan berlangsung, peserta tetap mendapatkan kenyamanan melalui penyediaan konsumsi, snack, serta fasilitas dokumentasi. Selain itu, keberadaan grup diskusi eksklusif yang diberikan setelah workshop menjadi jembatan lanjutan bagi peserta untuk berkonsultasi dan menyempurnakan draft mereka hingga siap diajukan.

Kegiatan ini dibatasi hanya untuk 25 ide paten, dan setiap ide dapat diikuti oleh hingga tiga orang peserta. Pembatasan ini membuat suasana lebih kondusif dan memungkinkan pendampingan yang lebih fokus serta mendalam. Banyak peserta yang mengapresiasi pola workshop yang tidak hanya bersifat satu arah, tetapi dialogis dan menekankan praktik langsung. Beberapa peserta mengaku bahwa sebelum mengikuti kegiatan ini, mereka menganggap penyusunan paten sebagai proses yang rumit dan sulit dijangkau. Namun setelah mendapatkan pendampingan, persepsi tersebut perlahan berubah menjadi semangat untuk melangkah lebih jauh dalam melindungi karya.
LPPM UNUGIRI berharap workshop ini tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi menjadi bagian dari upaya keberlanjutan untuk melahirkan inovator-inovator baru di lingkungan kampus maupun masyarakat luas. Dengan adanya pendampingan seperti ini, UNUGIRI ingin memastikan bahwa setiap ide bernilai tidak hanya berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar terlindungi dan dapat memberi dampak bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Langkah-langkah kecil yang dilakukan dari ruang SmartClass hari ini diyakini menjadi pondasi penting lahirnya solusi-solusi baru yang bermanfaat bagi masyarakat. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa UNUGIRI terus berkembang sebagai pusat pengembangan inovasi yang inklusif, progresif, dan berorientasi pada masa depan.



